Khotbah yang Menarik

Tips Khotbah yang Menarik
Oleh : Ermin Mosooli

Pernahkah Anda mengikuti khotbah yang “kurang menarik”? Biasanya kita merasa sebuah khotbah kurang menarik karena:

  • Terlalu banyak hal yang disampaikan sehingga tidak jelas intinya
  • Bahasanya terlalu “tinggi”
  • Tata bahasanya semrawut
  • Bertele-tele / terlalu lama
  • Tidak ada hal yang baru
  • Tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita

Dengan demikian maka agar menarik, khotbah sebaiknya disusun sebagai berikut :

  1. Singkat: hanya membahas satu tema. Jika disampaikan hanya memakan waktu antara 15-20 menit;
  2. Bahasanya mudah dimengerti: sederhana (disesuaikan dengan kondisi audiens), jika ada contoh dan ilustrasi akan lebih membantu;
  3. Temanya menarik. Tema yang menarik biasanya adalah tema yang menyangkut kehidupan real audiens;
  4. Berisi ide-ide baru
  5. Tidak menggurui: membiarkan audiens menemukan sendiri maknanya (kontemplatif);
  6. Idenya tersusun secara sistematis: runtut, tidak bertele-tele.
  7. Walaupun tidak harus menggunakan tata bahasa yang kaku, tetapi jika kalimat-kalimat yang digunakan jelas subyek, predikat, obyek, dll, akan membantu audiens menangkap maksud yang disampaikan.
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Bersukacitalah, Tuhan Mengasihi “Musuh” Kita

Contoh Khotbah
Oleh: Ira Desiawanti Mongililo
(Dosen Fak. Teologi Universitas Kristen Satya Wacana)

Perikop: Yunus 3 : 1 – 10

Apakah Anda punya musuh? Kemungkinan besar “iya”. Orang-orang yang secara terang-terangan atau diam-diam Anda benci, itulah musuh Anda. Orang-orang yang pernah membuat Anda cemburu, susah, kesal, marah, atau menderita. Bisa teman, sahabat, keluarga, rekan kerja, partner bisnis, atasan, dsb.

Kalau punya musuh, biasanya diam-diam atau terang-terangan juga kita ingin melihat orang itu hancur, gagal, menderita, atau sial sepanjang hidupnya. Kita bahkan mungkin berdoa memohon Tuhan menghukum mereka. Ketika mereka gagal, menderita, atau mengalami musibah, kita tertawa di dalam hati. Pikir kita, Tuhan telah mengabulkan doa kita. Sebaliknya ketika mereka berhasil dan bahkan terus maju kita merasa sakit dan hampa. Kita merasa dunia tidak adil, bahkan mungkin Tuhan tidak adil.
——————

Kalau ada di antara kita yang merasakan hal seperti itu maka kita tidak sendirian. Yunuspun merasakan hal yang sama.

Yunus adalah seorang nabi, yang memiliki tugas untuk menyampaikan berita dari Tuhan untuk pihak tertentu. Sebagai nabi, ia harus patuh dan selalu siap sedia untuk menjalankan perintah Tuhan kepadanya.

Tetapi Yunus juga adalah seorang Israel. Sebagai orang Isreal, ia sangat membenci Niniwe atau bangsa Asiria. Bangsa Asiria pada waktu itu secara brutal telah menaklukkan Israel Utara dan Selatan dan menghancurkan bangsa itu. Yunus sangat dendam dan tidak sudi berurusan dengan bangsa itu.

Maka ketika Tuhan memerintahkan untuk pergi ke Niniwe guna menyampaikan berita kehancuran bagi seisi kota itu, Yunus menolak untuk melakukannya.

Diceritakan bahwa Yunus lari, ia pergi ke tempat lain, dengan menumpang kapal. Namun pelariannya tidak berhasil. Tuhan “menangkap”nya. Ia dibuang ke laut, masuk dalam perut ikan, dan dimuntahkan di tempat di mana seharusnya ia pergi.

Yunus akhirnya menyerah. Ia pun pergi ke Niniwe walaupun dengan ogah-ogahan. Sesampainya di sana, ia tidak mau berbasa-basi. Ia hanya menyerukan delapan kata saja ke segala penjuru kota: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”
Sambil menjalankan tugas, jauh di dalam hatinya, Yunus sebenarnya sangat berharap bahwa Tuhan benar-benar akan menghukum kota itu. Ia tidak mengharapkan bangsa itu akan bertobat.

Ia pun naik di atas gunung tinggi dan menatap kota Niniwe dari atas. Ia menantikan datangnya saat Tuhan membumihanguskan kota tersebut. Ia ingin menyaksikan detik-detik dendamnya terbalaskan, di mana orang-orang Niniwe merasakan apa yang mereka rasakan sebagai bangsa Israel, kehilangan segala-galanya termasuk orang-orang yang terkasih; terhapus dari dunia ini selamanya tanpa meninggalkan bekas sama sekali.

Namun di luar dugaannya, apa yang ia nanti-nantikan ternyata tidak terjadi. Ternyata orang-orang Niniwe bertobat. Mereka bertobat sebagai hasil dari pekerjaannya sebagai nabi yaitu menyerukan perintah Tuhan dan Allah memutuskan untuk menyelamatkan mereka.

Bangsa Niniwe, musuhnya itu, ternyata telah dikasihi oleh Tuhan.
Yunus marah dengan segala keadaan ini. Selain dendamnya tidak terbalaskan, sekarang bangsa yang dibencinya itu, kemungkinan akan menjadi bagian dari umat pilihan Tuhan yang selama ini menjadi hak ekslusif dari bangsa Israel.

Yunus merasa Tuhan telah mempermalukan, mengkhianati dan mempermainkan dirinya.

—————————

Bukankah kita tidak jarang dengan mudah menjadi seperti Yunus? Ketika kita membenci atau memusuhi seseorang, tanpa sadar menginginkan dan atau memaksa Allah untuk membenci dan memusuhi orang itu juga.

Kita baru akan merasa Tuhan itu adil, seandainya Dia membalaskan dendam kita, gigi ganti gigi, mata ganti mata, luka hati dibalas dengan luka hati. Kita tidak menghendaki ada pintu maaf dan pertobatan.
—————————–

Ketika perasaan dan pikiran seperti itu muncul, ingatlah apa yang dikatakan Allah kepada Yunus, bahwa kasihNya kepada seluruh umat manusia adalah sama karena Dialah yang menciptakan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Kita tidak bisa mengontrol dan membatasi kasih Allah yang bebas kepada siapapun yang Ia hendak kasihi.

Jika kita disakiti orang lain, kita harus mampu berdamai dengan keadaan diri yang rapuh, yang patah, yang pahit, yang penuh dengan keinginan untuk balas dendam. Kita harus terbuka untuk mencoba menjadi sama seperti Allah yang memiliki kasih yang besar yang melampaui sakit hati, dendam dan kenistaan.

Ingatlah, bahwa kita juga adalah orang yang berdosa. Cobalah diam sejenak dan menghitung semua kesalahan yang pernah kita lakukan. Bisakah kita menghitungnya? Di luar sana, pastilah banyak orang yang pernah kecewa, terluka, dan menderita, akibat perkataan dan perbuatan kita, baik kita sengaja maupun tidak sengaja.

Bayangkanlah, apa jadinya, jika tak ada maaf yang kita bisa terima dari siapa pun. Bayangkanlah juga, jika di atas semua kesalahan yang kita lakukan, Tuhan tidak berkenan memberikan pengampunan.

Namun kita bersyukur karena Tuhan kita adalah Tuhan yang cepat sekali melupakan kesalahan kita, yang gampang sekali tersentuh dengan permintaan maaf kita, yang tidak pelit-pelit memaafkan kita, menyesal karena telah terlalu keras terhadap kita dan memperbaharui hubungan kita denganNya.

Allah yang selalu mengampuni kita itu, adalah Allah yang mengasihi semua orang. Sebab itu hendaklah kita juga tidak mengeraskan hati. Mari kita biarkan Tuhan memanjangkan tangan pengasihanNya untuk pula memaafkan mereka yang bersalah kepadaNya dan kepada kita.

Di saat ada yang menyakiti kita dan kita merasa hati kita keras, kita ingin membalasnya hingga melihat ia menderita maka ingatlah bahwa menentukan kebahagian atau kesedihan siapapun bukanlah hak kita melainkan hak Tuhan. Biarkanlah Allah menjadi Allah dan jangan batasi kasih dan pengampunan Allah yang sebenarnya melampaui segala akal, ruang dan waktu.

Amin!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN SEJATI

Contoh Khotbah:
Oleh : Ermin Mosooli

Renungan : Matius: 11 : 28 – 30.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Jika ditanya, “Apakah Anda orang yang bahagia?” Mungkin Anda tidak akan menjawabnya dengan spontan, dan setelah itu jawabannya “ Yaaa… kadang-kadang bahagia, kadang-kadang tidak”.

Tapi jika pertanyaannya: Apakah Anda ingin selalu bahagia? Saya kira, Anda akan spontan menjawab: “Ya”.

Siapa tidak ingin bahagia? Jika bahagia adalah manis, sukacita, tawa, keceriaan, kesenangan, kemudahan, dll, pasti semua orang menginginkannya. Kalau bisa, setiap saat, selama-lamanya.

Lalu, apakah kita bisa untuk selalu bahagia?

Jawabnya: BISA! Kita bisa memiliki kebahagiaan yang sungguh-sungguh nyata dalam hidup kita, berlangsung setiap saat, selama-lamanya. Inilah yang disebut kebahagiaan sejati.

Mari kita lihat Bahan Renungan kita saat ini, yaitu Matius: 11 : 28 – 29. Beberapa poin penting yang dapat kita renungkan adalah sebagai berikut:

1. Makna kebahagiaan

Dalam perikop ini ada yang disebut Yesus sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat. inilah orang-orang yang sedang merasa tidak bahagia. Letih lesu secara fisik, bisa diselesaikan dengan makan dan istirahat yang cukup. Begitu jika beban berat yang sedang dipikul itu adalah barang atau materi, bisa dengan mudah diusahakan cara memikulnya dengan mudah.

Namun berbeda, jika yang letih lesu dan berbeban berat itu adalah jiwa kita. Rasanya mau mati saja, bukan? Dunia ini seolah berhenti berputar.

Yesus katakan kepada orang-orang seperti itu: “Aku akan memberikan kelegaan kepadamu … dan jiwamu akan mendapatkan ketenangan.”

Kelegaan dan ketenangan jiwa, itulah kunci yang mengatasi semua ketidakbahagiaan. Bahagia itu artinya lega dan tenang. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak merasa tertekan dan tetap tenang. Jika ini sungguh-sungguh terjadi dalam jiwa kita, setiap saat, sepanjang waktu, mak kita telah memiliki kebahagiaan yang sejati.

2. Kebahagiaan sejati ada pada Tuhan

Yesus katakan: “Marilah kepadaKu…”.

Kebahagiaan sejati bisa didapatkan dalam kehidupan bersama dengan Tuhan, sebab Dialah yang memiliki semua jawaban dan jalan keluar yang kita butuhkan atas semua persoalan hidup yang kita hadapi.

Banyak orang Kristen mengakui hal ini. Mereka berusaha datang kepada Tuhan dengan rajin beribadah, berdoa, dst. Namun kadang tindakan ini tidak terlalu memberi dampak yang kuat. Bahkan tidak jarang ada yang kecewa dan menganggap Tuhan tidak peduli dengan persoalan hidupnya. Ia sudah datang kepada Tuhan, tapi persoalan hidupnya tidak selesai.

Ini terjadi karena ada hal penting yang dilupakan, yaitu : ….

3. Kebahagiaan sejati harus diusahakan

Kebahagiaan sejati tidak otomatis menjadi milik kita tanpa kita melakukan apa-apa. Kita tidak bisa memaksa Tuhan menyelesaikan persoalan kita, tapi kita sendiri tidak mau melakukan apa pun. Justeru perbuatan Tuhan akan nyata melalui usaha yang kita kerjakan.

Yesus katakan: “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah kepadaku”.

Kuk adalah palang kayu dengan jepitan vertikal yang memisahkan kedua binatang penarik sehingga bersama-sama dapat menarik beban berat. Seekor binatang yang memikul kuk, terikat dengan binatang lainnya yang memikul kuk yang sama secara bersama-sama. Mereka akan bekerja sama untuk mengerjakan sesuatu dan memikul beban yang sama.

Bagi kita, memikul kuk berarti mengikatkan diri bersama dengan Tuhan untuk mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Jika kita ingin keluar dari persoalan hidup kita, maka kita harus bersedia mengikatkan diri dengan Tuhan untuk menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan.

Dalam ajakan “belajarlah kepadaKu”, Yesus mengajak kita untuk mengikuti cara yang Dia tunjukkan. Jika masalahnya seperti itu, begini cara mengatasinya.

KataNya “Aku ini lemah lembut dan rendah hati”. Ia akan menjadi guru yang sangat pengertian dan nyaman untuk belajar. Ia akan menuntun dengan sabar hingga kita mencapai kelegaan dan ketenangan jiwa.

Di mana kita mendapatkan tuntunan itu? Tentu saja melalui ketekunan dalam doa dan ketaatan untuk memahami dan menjalankan Firman Tuhan.

4. Kebahagiaan sejati tidak sulit untuk diperoleh

Yesus katakan “…bebanku pun ringan”.

Ketidakbahagiaan adalah beban kehidupan. Kuk juga adalah sebuah beban. Tetapi kuk yang dipasang oleh Tuhan itu jauh lebih ringan dari persoalan kehidupan kita, dan pasti bisa dipikul.

Jika kita merasakan beban hidup karena takut terhadap kematian, Tuhan sudah punya semua jawabannya. Dia sudah menjanjikan kehidupan setelah kematian. Jadilah hadapilah kematian sebagai hal yang wajar.

Jika kita menderita karena terluka batin akibat disakiti orang lain, jawabanNya: ampunilah, karena dosamu sudah lebih dahulu diampuni! Ini jauh lebih mudah. Tidak makan waktu, biaya, energi, dan tidak beresiko, dibandingkan kita merancang dan melaksanakan pembalasan dendam.

Jika kita kecewa karena kegagalan, Dia katakan “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu”, maka percayalah pasti masih ada yang lebih baik. Jangan menyerah, tetaplah berharap, dan berusaha.

Demikianlah, semua ada jalan keluarnya. Tetapi jalan keluar itu hanya akan benar-benar mengantar Anda pada kebahagiaan bila Anda selalu melaksanakannya setiap saat dalam hidup Anda. Mudah bukan? Kita perlu melakukan sedikit usaha, untuk mendapatkan hal besar dan penting dan kehidupan kita, yaitu kebahagiaan sejati.

AMIN!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment