Bersukacitalah, Tuhan Mengasihi “Musuh” Kita

Standard

Contoh Khotbah
Oleh: Ira Desiawanti Mongililo
(Dosen Fak. Teologi Universitas Kristen Satya Wacana)

Perikop: Yunus 3 : 1 – 10

Apakah Anda punya musuh? Kemungkinan besar “iya”. Orang-orang yang secara terang-terangan atau diam-diam Anda benci, itulah musuh Anda. Orang-orang yang pernah membuat Anda cemburu, susah, kesal, marah, atau menderita. Bisa teman, sahabat, keluarga, rekan kerja, partner bisnis, atasan, dsb.

Kalau punya musuh, biasanya diam-diam atau terang-terangan juga kita ingin melihat orang itu hancur, gagal, menderita, atau sial sepanjang hidupnya. Kita bahkan mungkin berdoa memohon Tuhan menghukum mereka. Ketika mereka gagal, menderita, atau mengalami musibah, kita tertawa di dalam hati. Pikir kita, Tuhan telah mengabulkan doa kita. Sebaliknya ketika mereka berhasil dan bahkan terus maju kita merasa sakit dan hampa. Kita merasa dunia tidak adil, bahkan mungkin Tuhan tidak adil.
——————

Kalau ada di antara kita yang merasakan hal seperti itu maka kita tidak sendirian. Yunuspun merasakan hal yang sama.

Yunus adalah seorang nabi, yang memiliki tugas untuk menyampaikan berita dari Tuhan untuk pihak tertentu. Sebagai nabi, ia harus patuh dan selalu siap sedia untuk menjalankan perintah Tuhan kepadanya.

Tetapi Yunus juga adalah seorang Israel. Sebagai orang Isreal, ia sangat membenci Niniwe atau bangsa Asiria. Bangsa Asiria pada waktu itu secara brutal telah menaklukkan Israel Utara dan Selatan dan menghancurkan bangsa itu. Yunus sangat dendam dan tidak sudi berurusan dengan bangsa itu.

Maka ketika Tuhan memerintahkan untuk pergi ke Niniwe guna menyampaikan berita kehancuran bagi seisi kota itu, Yunus menolak untuk melakukannya.

Diceritakan bahwa Yunus lari, ia pergi ke tempat lain, dengan menumpang kapal. Namun pelariannya tidak berhasil. Tuhan “menangkap”nya. Ia dibuang ke laut, masuk dalam perut ikan, dan dimuntahkan di tempat di mana seharusnya ia pergi.

Yunus akhirnya menyerah. Ia pun pergi ke Niniwe walaupun dengan ogah-ogahan. Sesampainya di sana, ia tidak mau berbasa-basi. Ia hanya menyerukan delapan kata saja ke segala penjuru kota: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”
Sambil menjalankan tugas, jauh di dalam hatinya, Yunus sebenarnya sangat berharap bahwa Tuhan benar-benar akan menghukum kota itu. Ia tidak mengharapkan bangsa itu akan bertobat.

Ia pun naik di atas gunung tinggi dan menatap kota Niniwe dari atas. Ia menantikan datangnya saat Tuhan membumihanguskan kota tersebut. Ia ingin menyaksikan detik-detik dendamnya terbalaskan, di mana orang-orang Niniwe merasakan apa yang mereka rasakan sebagai bangsa Israel, kehilangan segala-galanya termasuk orang-orang yang terkasih; terhapus dari dunia ini selamanya tanpa meninggalkan bekas sama sekali.

Namun di luar dugaannya, apa yang ia nanti-nantikan ternyata tidak terjadi. Ternyata orang-orang Niniwe bertobat. Mereka bertobat sebagai hasil dari pekerjaannya sebagai nabi yaitu menyerukan perintah Tuhan dan Allah memutuskan untuk menyelamatkan mereka.

Bangsa Niniwe, musuhnya itu, ternyata telah dikasihi oleh Tuhan.
Yunus marah dengan segala keadaan ini. Selain dendamnya tidak terbalaskan, sekarang bangsa yang dibencinya itu, kemungkinan akan menjadi bagian dari umat pilihan Tuhan yang selama ini menjadi hak ekslusif dari bangsa Israel.

Yunus merasa Tuhan telah mempermalukan, mengkhianati dan mempermainkan dirinya.

—————————

Bukankah kita tidak jarang dengan mudah menjadi seperti Yunus? Ketika kita membenci atau memusuhi seseorang, tanpa sadar menginginkan dan atau memaksa Allah untuk membenci dan memusuhi orang itu juga.

Kita baru akan merasa Tuhan itu adil, seandainya Dia membalaskan dendam kita, gigi ganti gigi, mata ganti mata, luka hati dibalas dengan luka hati. Kita tidak menghendaki ada pintu maaf dan pertobatan.
—————————–

Ketika perasaan dan pikiran seperti itu muncul, ingatlah apa yang dikatakan Allah kepada Yunus, bahwa kasihNya kepada seluruh umat manusia adalah sama karena Dialah yang menciptakan seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Kita tidak bisa mengontrol dan membatasi kasih Allah yang bebas kepada siapapun yang Ia hendak kasihi.

Jika kita disakiti orang lain, kita harus mampu berdamai dengan keadaan diri yang rapuh, yang patah, yang pahit, yang penuh dengan keinginan untuk balas dendam. Kita harus terbuka untuk mencoba menjadi sama seperti Allah yang memiliki kasih yang besar yang melampaui sakit hati, dendam dan kenistaan.

Ingatlah, bahwa kita juga adalah orang yang berdosa. Cobalah diam sejenak dan menghitung semua kesalahan yang pernah kita lakukan. Bisakah kita menghitungnya? Di luar sana, pastilah banyak orang yang pernah kecewa, terluka, dan menderita, akibat perkataan dan perbuatan kita, baik kita sengaja maupun tidak sengaja.

Bayangkanlah, apa jadinya, jika tak ada maaf yang kita bisa terima dari siapa pun. Bayangkanlah juga, jika di atas semua kesalahan yang kita lakukan, Tuhan tidak berkenan memberikan pengampunan.

Namun kita bersyukur karena Tuhan kita adalah Tuhan yang cepat sekali melupakan kesalahan kita, yang gampang sekali tersentuh dengan permintaan maaf kita, yang tidak pelit-pelit memaafkan kita, menyesal karena telah terlalu keras terhadap kita dan memperbaharui hubungan kita denganNya.

Allah yang selalu mengampuni kita itu, adalah Allah yang mengasihi semua orang. Sebab itu hendaklah kita juga tidak mengeraskan hati. Mari kita biarkan Tuhan memanjangkan tangan pengasihanNya untuk pula memaafkan mereka yang bersalah kepadaNya dan kepada kita.

Di saat ada yang menyakiti kita dan kita merasa hati kita keras, kita ingin membalasnya hingga melihat ia menderita maka ingatlah bahwa menentukan kebahagian atau kesedihan siapapun bukanlah hak kita melainkan hak Tuhan. Biarkanlah Allah menjadi Allah dan jangan batasi kasih dan pengampunan Allah yang sebenarnya melampaui segala akal, ruang dan waktu.

Amin!

————————–

KLIK “DI SINI” UNTUK MENGUNJUNGI HALAMAN EBOOK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s